SEPUTAR INFORMASI HOT DAN TER APIK

Stok Sapi Siap Potong Menipis, Harga Daging Terancam Naik

TOPIK NEWS – Harga daging sapi berpotensi menghadapi tekanan kenaikan seiring semakin terbatasnya ketersediaan sapi siap potong di pasar. Kondisi tersebut disebut mulai terasa di tingkat peternak hingga pedagang, terutama di Pulau Jawa.

Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI), Asnawi, mengungkapkan stok sapi yang siap dipotong saat ini terus menipis. Jika kondisi tersebut tidak segera diatasi, ketersediaannya bahkan dikhawatirkan habis pada November 2026.

Menurut Asnawi, persoalan bukan sekadar jumlah sapi yang tersedia, tetapi juga waktu yang dibutuhkan untuk menjadikan sapi di kandang siap dipotong.

Asnawi mengatakan sebagian besar sapi yang masih tersedia di kandang merupakan pedet atau sapi berusia remaja.

Sapi-sapi tersebut belum dapat langsung masuk rumah potong karena masih membutuhkan proses penggemukan.

Waktu yang dibutuhkan setidaknya sekitar tiga bulan, yang tentunya juga membutuhkan tambahan biaya pakan dan pemeliharaan.

Kondisi tersebut membuat pasokan sapi siap potong tidak bisa serta-merta bertambah ketika stok di pasar mulai menipis.

Selain persoalan ketersediaan, pelaku usaha juga menghadapi tekanan dari sisi biaya pengadaan sapi.

Asnawi menyoroti asumsi nilai tukar yang digunakan pemerintah dalam perhitungan impor sapi, yakni sekitar Rp16.500 per dolar AS. Sementara itu, menurutnya, nilai tukar dolar AS di pasar telah berada pada kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000.

Perbedaan kurs tersebut berpengaruh terhadap biaya yang harus dikeluarkan dalam proses pengadaan sapi impor.

Ketika biaya impor meningkat, harga sapi yang masuk ke dalam negeri juga berpotensi ikut terdorong naik.

Tekanan terhadap biaya pengadaan juga disebut berasal dari kondisi geopolitik global.

Konflik di kawasan Timur Tengah serta kenaikan harga bahan bakar minyak turut menjadi faktor yang dapat meningkatkan biaya transportasi dan rantai pasok.

Akumulasi berbagai faktor tersebut membuat harga pokok pembelian (HPP) sapi di tingkat importir disebut telah mencapai sekitar Rp71.000 per kilogram (kg) timbang hidup.

Angka itu berada cukup jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah sebesar Rp59.500 per kg timbang hidup.

Kesenjangan antara biaya pengadaan dan harga acuan menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pelaku usaha sapi dan daging.

Di sisi lain, terbatasnya sapi siap potong dapat semakin memperketat pasokan apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan sapi baru.

Dalam kondisi normal, pedagang dan jagal membutuhkan pasokan sapi secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Namun, jika stok siap potong terus berkurang, ruang bagi pelaku usaha untuk mempertahankan harga jual juga semakin terbatas.

Tekanan biaya tersebut pada akhirnya berpotensi diteruskan ke rantai distribusi dan konsumen, meskipun besarnya dampak terhadap harga daging di tingkat konsumen tetap bergantung pada kondisi pasokan dan permintaan di pasar.

Ancaman berkurangnya sapi siap potong menjadi perhatian karena proses penggemukan membutuhkan waktu. Artinya, penanganan persoalan pasokan tidak dapat dilakukan secara instan ketika stok sudah benar-benar menipis.

Pemerintah dan pelaku usaha perlu memperhatikan ketersediaan sapi sejak dari tingkat peternak hingga distribusi ke pasar.

Dengan kondisi HPP yang disebut telah mencapai Rp71.000 per kg, sementara HAP berada di Rp59.500 per kg, keseimbangan antara harga acuan, biaya produksi, dan kemampuan konsumen menjadi tantangan tersendiri.

Jika pasokan sapi siap potong benar-benar semakin terbatas hingga November 2026, tekanan terhadap harga daging sapi berpotensi semakin besar.

Namun, sejauh data tersebut, kenaikan harga daging belum dapat dipastikan sebagai kepastian. Perkembangannya tetap akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, ketersediaan sapi, nilai tukar, biaya logistik, serta kondisi permintaan pasar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *