TOPIK NEWS – Lonjakan harga kedelai impor akibat menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai dirasakan para perajin tempe di berbagai daerah, termasuk di Kota Bekasi, Jawa Barat.
Kondisi tersebut membuat sebagian produsen tempe harus mencari cara agar usaha mereka tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan. Salah satu langkah yang paling banyak dilakukan adalah memperkecil ukuran tempe, sementara harga jual tetap dipertahankan.
Fenomena ini terjadi karena daya beli masyarakat dinilai belum cukup kuat untuk menerima kenaikan harga makanan sehari-hari seperti tempe.
Salah satu perajin tempe yang merasakan dampak langsung kondisi tersebut adalah Mukapsah (52), produsen tempe di kawasan Gang Mawar VI, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur.
Mukapsah mengaku harga kedelai impor yang menjadi bahan utama produksi tempe mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Sekarang harga kedelai sampai Rp1.080.000 per kuintal, sebelumnya Rp960.000. Harga dolar berpengaruh banget, ya. Apalagi kami pakai bahan impor,” ujar Mukapsah pada Selasa (19/5/2026).
Di tengah kenaikan biaya produksi, Mukapsah memilih tidak langsung menaikkan harga jual tempe kepada konsumen.
Sebagai gantinya, ia mengambil langkah memperkecil ukuran produk agar tetap dapat dijual dengan harga yang sama.
Menurutnya, strategi tersebut dilakukan karena sebagian besar pelanggan lebih sensitif terhadap kenaikan harga dibanding perubahan ukuran produk.
“Paling harus memperkecil ukuran tempenya kalau harganya enggak dinaikkan. Soalnya pembeli enggak mau kalau harganya naik,” katanya.
Fenomena mengecilkan ukuran produk tanpa menaikkan harga sebenarnya bukan hal baru di tengah tekanan ekonomi.
Praktik ini sering disebut sebagai bentuk penyesuaian produsen agar konsumen tetap merasa mampu membeli produk sehari-hari.
Industri tempe nasional selama ini memang sangat bergantung pada kedelai impor, terutama dari Amerika Serikat.
Kondisi tersebut membuat harga bahan baku sangat dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ketika dolar menguat, biaya impor kedelai otomatis meningkat dan berdampak langsung terhadap biaya produksi para perajin tempe.
Hal inilah yang kini dirasakan oleh banyak pelaku usaha kecil di sektor pangan tradisional.
Kenaikan harga kedelai tidak hanya memengaruhi produsen besar, tetapi juga usaha rumahan yang mengandalkan produksi harian untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Meski menghadapi tekanan biaya produksi, Mukapsah mengaku aktivitas usahanya masih berjalan normal.
Setiap hari ia mengolah sekitar satu kuintal kedelai menjadi tempe yang kemudian dipasarkan ke Pasar Wisma Asri di Bekasi Utara.
“Kalau untuk pembelanjaan masih biasa karena pemesanan juga masih sama. Cuma keuntungannya saja yang berkurang,” ujarnya.
Menurut Mukapsah, permintaan pasar terhadap tempe masih cukup stabil karena makanan tersebut merupakan salah satu sumber protein murah yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Namun margin keuntungan yang semakin tipis membuat pelaku usaha harus lebih berhati-hati mengatur biaya produksi.
Mukapsah juga menjelaskan proses produksi tempe yang dilakukan setiap hari di tempat usahanya.
Tahapan produksi dimulai dari perebusan kedelai hingga mendidih, kemudian direndam semalaman sebelum masuk tahap penggilingan.
“Pertama kacang direbus. Kalau sudah mendidih diangkat lalu direndam semalaman. Besok paginya digiling, dicuci bersih, ditiriskan, lalu dikemas,” jelasnya.
Proses tersebut membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya operasional yang tidak sedikit.
Karena itu, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan serius bagi para perajin tempe skala kecil.
Tempe selama ini dikenal sebagai salah satu makanan pokok pendamping nasi yang sangat populer di Indonesia.
Selain harganya relatif terjangkau, tempe juga menjadi sumber protein nabati utama bagi banyak keluarga.
Di tengah harga bahan pangan lain yang cenderung naik, tempe masih menjadi pilihan masyarakat karena dianggap lebih ekonomis dibanding daging atau ikan.
Karena itu, perubahan harga maupun ukuran tempe sering kali langsung dirasakan konsumen.
Banyak masyarakat kini mulai menyadari ukuran tempe di pasaran semakin kecil dibanding sebelumnya.
Kasus yang dialami perajin tempe di Bekasi memperlihatkan bagaimana pelemahan rupiah dapat berdampak langsung terhadap sektor pangan sehari-hari.
Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, harga barang impor otomatis ikut meningkat.
Karena kedelai sebagian besar masih diimpor, maka kenaikan dolar menjadi salah satu faktor utama melonjaknya harga bahan baku tempe.
Situasi ini menunjukkan bahwa gejolak ekonomi global bisa berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat kecil.
Para perajin tempe kini berada dalam posisi yang cukup sulit.
Jika harga jual dinaikkan, mereka khawatir pelanggan akan beralih atau mengurangi pembelian.
Namun jika harga tetap dipertahankan, keuntungan usaha terus menurun akibat biaya produksi yang semakin besar.
Akibatnya, memperkecil ukuran produk menjadi pilihan yang dianggap paling realistis saat ini.
Strategi tersebut diambil agar usaha tetap berjalan dan konsumen masih mampu membeli.
Para pelaku usaha berharap kondisi nilai tukar rupiah dan harga kedelai impor dapat kembali stabil agar beban produksi tidak semakin berat.
Selain itu, banyak pihak juga berharap pemerintah dapat memperkuat produksi kedelai lokal agar ketergantungan terhadap impor bisa dikurangi.
Selama Indonesia masih mengandalkan pasokan impor dalam jumlah besar, fluktuasi dolar akan terus memengaruhi harga tempe dan tahu di pasaran.
Karena itu, isu kedelai bukan hanya persoalan industri pangan, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan nasional.
Di sisi lain, konsumen juga mulai beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Sebagian masyarakat menyadari ukuran tempe yang dibeli kini tidak sebesar sebelumnya.
Meski demikian, banyak pembeli tetap memilih tempe karena masih dianggap lebih murah dibanding sumber protein lainnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tempe tetap memiliki posisi penting dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia.
Kisah perajin tempe di Bekasi akhirnya menjadi gambaran nyata bagaimana tekanan ekonomi global dapat dirasakan langsung hingga tingkat usaha kecil.
Menguatnya dolar AS bukan hanya menjadi isu ekonomi makro, tetapi juga berdampak terhadap dapur masyarakat sehari-hari.
Mulai dari produsen hingga konsumen sama-sama harus melakukan penyesuaian demi bertahan di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
Bagi para perajin seperti Mukapsah, menjaga usaha tetap berjalan kini menjadi perjuangan tersendiri di tengah harga bahan baku yang terus bergerak naik.














Leave a Reply