SEPUTAR INFORMASI HOT DAN TER APIK

Malaysia Keluhkan Kabut Asap Kalimantan Bikin Udara Tidak Sehat

TOPIK VIRAL – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dilaporkan turut berdampak hingga ke wilayah Sarawak, Malaysia. Kondisi kualitas udara yang memburuk membuat ratusan sekolah di negara bagian tersebut harus ditutup sementara.

Sebanyak 591 sekolah di Sarawak diliburkan pada Jumat (21/8/2026) sebagai langkah perlindungan terhadap siswa dan tenaga pendidik dari paparan udara yang dinilai tidak sehat.

Keputusan tersebut diambil setelah sejumlah wilayah mencatat peningkatan Indeks Pencemaran Udara (IPU), terutama kawasan yang berada dekat dengan perbatasan Malaysia dan Indonesia.

Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Indeks Pencemaran Udara Malaysia (APIMS) yang dipantau pada pukul 06.00 waktu setempat, wilayah Serian mencatat IPU 242.

Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.

Serian menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak karena lokasinya berada tidak jauh dari perbatasan Malaysia dengan Indonesia. Kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut membuat kualitas udara mengalami penurunan signifikan.

Sejumlah daerah lain di Sarawak juga mencatat angka IPU tinggi. Sri Aman berada pada angka 189, Kuching 188, Samarahan 180, Sarikei 172, Sibu 156, dan Bintulu 153.

Sementara itu, Kapit mencatat IPU 107 dan Samalaju 36.

Data tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan polusi udara.

Penutupan sekolah tidak hanya mencakup sebagian kecil lembaga pendidikan. Dari total 591 sekolah yang ditutup, sebanyak 509 merupakan sekolah dasar.

Jumlah murid sekolah dasar yang terdampak mencapai sekitar 107.590 orang.

Selain itu, terdapat 82 sekolah menengah yang juga diliburkan dengan jumlah siswa mencapai 89.733 orang.

Dengan demikian, kebijakan tersebut berdampak terhadap hampir 200 ribu siswa di Sarawak.

Sekolah diliburkan untuk mengurangi aktivitas anak-anak di luar ruangan sekaligus meminimalkan risiko kesehatan akibat menghirup udara yang tercemar kabut asap.

Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak memastikan perkembangan kualitas udara terus menjadi perhatian dalam menentukan kebijakan kegiatan belajar mengajar.

Di sisi lain, Jawatankuasa Pengurusan Bencana Negeri Sarawak (JPBNS) turut memantau perkembangan kondisi lingkungan dan cuaca.

Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap kualitas udara, tetapi juga mencakup titik panas, potensi kebakaran hutan dan lahan gambut, serta ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah.

Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya kondisi apabila kebakaran terus terjadi dan kabut asap kembali menumpuk.

Dampak kabut asap yang mencapai Sarawak menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Kalimantan dapat memberikan konsekuensi lintas wilayah.

Angin dan kondisi atmosfer dapat membawa partikel asap dari lokasi kebakaran menuju wilayah lain, termasuk kawasan yang berada di luar Indonesia.

Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga pencegahan munculnya titik api baru serta pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan.

Penutupan 591 sekolah di Sarawak menjadi salah satu dampak nyata dari memburuknya kualitas udara. Kebijakan tersebut sekaligus menjadi langkah pencegahan agar aktivitas pendidikan tidak meningkatkan risiko kesehatan bagi siswa maupun tenaga pendidik selama kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *