SEPUTAR INFORMASI HOT DAN TER APIK

Viral di KRL! Ibu Ibu Hirup Kamper, Bisa Bikin ‘Fly’ Seperti Ngelem

TOPIK VIRAL – Sebuah video yang memperlihatkan seorang penumpang perempuan membawa kapur barus di dalam kereta rel listrik (KRL) menjadi perhatian di media sosial.

Dalam rekaman yang beredar, keberadaan kapur barus tersebut disebut membuat penumpang lain merasa tidak nyaman. Bau yang cukup menyengat di dalam gerbong menjadi persoalan yang kemudian ramai diperbincangkan.

Sejumlah warganet bahkan mengaitkan aktivitas menghirup aroma kapur barus dengan kebiasaan menghirup uap dari bahan tertentu, termasuk yang dikenal sebagai “ngelem”.

Namun, menghirup kapur barus tidak dapat begitu saja disamakan dengan ngelem. Keduanya melibatkan bahan dan mekanisme paparan yang berbeda. Karena itu, tujuan seseorang membawa atau menghirup kapur barus tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan rekaman yang beredar.

Dalam video tersebut, situasi di dalam KRL tampak seperti biasa dengan sejumlah penumpang berada di dalam gerbong.

Namun, keberadaan kapur barus yang mengeluarkan aroma kuat disebut mengganggu kenyamanan penumpang lain. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian karena terjadi di ruang tertutup yang digunakan bersama.

Bagi sebagian orang, bau yang sangat menyengat dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama ketika terpapar dalam waktu tertentu.

Karena itu, penggunaan atau membawa bahan dengan aroma kuat di dalam transportasi umum perlu mempertimbangkan kenyamanan penumpang lain.

Pertanyaan tersebut muncul setelah video itu beredar.

Jawabannya, tidak sama. Istilah “ngelem” umumnya merujuk pada penyalahgunaan uap dari produk perekat atau bahan pelarut tertentu untuk mendapatkan efek psikoaktif. Sementara kapur barus merupakan bahan yang mengandung senyawa seperti kamper (camphor) dan digunakan antara lain sebagai pengharum atau pengusir ngengat.

Meski berbeda, menghirup kapur barus secara sengaja bukanlah kebiasaan yang aman. Paparan kamper dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan efek kesehatan yang merugikan. Risiko paparan juga bergantung pada konsentrasi, lama paparan, serta kondisi orang yang terpapar.

Karena itu, tidak tepat menganggap kapur barus sebagai alternatif atau pengganti aktivitas “ngelem”.

Peristiwa tersebut pada akhirnya bukan hanya mengenai jenis bahan yang dibawa, tetapi juga persoalan kenyamanan bersama di transportasi umum.

KRL merupakan ruang bersama dengan sirkulasi udara dan kapasitas penumpang yang terbatas. Membawa bahan yang menghasilkan aroma sangat kuat berpotensi mengganggu penumpang lain, meskipun orang yang membawanya mungkin memiliki alasan tertentu.

Sementara itu, mengenai alasan ibu tersebut membawa maupun menghirup kapur barus, belum ada informasi terverifikasi yang menjelaskan motifnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *