TOPIK VIRAL – Jagat media sosial tengah diramaikan oleh pengakuan mengejutkan dari seorang tokoh perempuan Papua yang dikenal luas dengan sebutan “Mamah Papua”, yakni Yasinta Moiwen.
Melalui sebuah video klarifikasi yang viral di berbagai platform digital, Yasinta menyampaikan pernyataan tegas terkait keterlibatannya dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi.
Dalam keterangannya, ia mengaku merasa dijebak oleh oknum lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang diduga berada di balik produksi film tersebut.
Pengakuan ini sontak memicu perhatian publik, terlebih karena film dokumenter itu belakangan menuai sorotan dan memantik perdebatan di media sosial.
Yasinta menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui tujuan sebenarnya dari pembuatan film tersebut.
Ia mengaku datang memenuhi undangan yang disampaikan kepadanya karena mengira kegiatan tersebut merupakan bagian dari acara budaya dan syukuran adat untuk mengangkat harkat perempuan Papua.
Namun, menurutnya, realitas di lapangan jauh berbeda dari apa yang disampaikan sebelumnya.
Dalam video klarifikasinya, Yasinta menjelaskan bahwa kehadirannya dalam kegiatan tersebut didasari niat baik untuk mendukung kegiatan budaya yang disebut-sebut bertujuan memberdayakan perempuan Papua.
Ia mengaku percaya pada penjelasan awal yang disampaikan pihak penyelenggara.
Menurut Yasinta, dirinya tidak pernah diberi penjelasan secara rinci mengenai konsep dokumenter, alur narasi, maupun bagaimana hasil rekaman itu nantinya akan dipublikasikan.
Ia menyebut dirinya hanya mendapat undangan untuk hadir dalam acara adat.
Karena merasa kegiatan tersebut memiliki nilai budaya dan sosial, ia memutuskan untuk datang.
Namun, ia mengaku terkejut ketika kemudian mengetahui bahwa rekaman yang melibatkan dirinya dijadikan bagian dari sebuah film dokumenter yang beredar luas.
Lebih jauh, ia menyatakan bahwa potongan video yang viral di media sosial dinilai tidak menggambarkan konteks utuh dari kehadirannya.
Menurutnya, narasi yang dibangun dalam potongan video berdurasi sekitar dua menit tersebut justru menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.
Salah satu poin utama dalam klarifikasi Yasinta adalah dugaan bahwa proses dokumentasi dilakukan tanpa penjelasan menyeluruh.
Ia mengaku tidak mengetahui bahwa dirinya sedang direkam untuk kepentingan produksi film dengan narasi tertentu.
Menurut pengakuannya, ia baru mengetahui adanya film tersebut setelah potongan videonya ramai beredar.
Yasinta menilai ada informasi penting yang tidak disampaikan kepadanya sejak awal.
Ia juga menyebut tidak pernah mendapatkan dokumen persetujuan tertulis ataupun penjelasan resmi mengenai hak penggunaan rekaman.
Dalam praktik jurnalistik maupun produksi dokumenter profesional, persetujuan narasumber merupakan aspek penting, terlebih jika materi tersebut akan dipublikasikan secara luas.
Karena itu, pengakuan Yasinta memunculkan pertanyaan publik mengenai standar etik yang digunakan dalam proses produksi film tersebut.
Dalam penjelasannya, Yasinta mengungkap bahwa dirinya sempat dibawa ke wilayah Wamena untuk mengikuti proses syuting.
Ia mengaku tidak mengetahui bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari produksi film dokumenter.
Ia menuturkan bahwa dirinya baru menyadari setelah hasil rekaman beredar dan menjadi bahan perbincangan publik.
Lebih mengejutkan lagi, Yasinta mengaku tidak menerima kompensasi apa pun.
Ia menyebut sempat diinapkan selama lima hari di sebuah hotel di Makassar sebelum akhirnya dipulangkan.
Menurutnya, sempat ada janji bantuan dana yang disampaikan oleh pihak penyelenggara.
Namun, janji tersebut tidak pernah terealisasi.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak menerima bayaran maupun bentuk kompensasi lainnya atas keterlibatannya.
Pernyataan ini semakin memperkuat rasa kecewa yang ia rasakan.
Bagi Yasinta, persoalan ini bukan sekadar soal materi, melainkan soal penghormatan terhadap martabat dan keterbukaan informasi.
Dalam video klarifikasi tersebut, Yasinta tampak menahan tangis saat menyampaikan kekecewaannya.
Ia merasa nama baiknya serta komunitas mama-mama Papua ikut terseret akibat beredarnya film tersebut tanpa persetujuannya.
Sebagai tokoh adat perempuan, ia mengaku selama ini berupaya menjaga nilai-nilai budaya dan kehormatan masyarakat Papua.
Karena itu, ia sangat menyayangkan jika namanya digunakan dalam narasi yang tidak ia pahami sepenuhnya.
Menurut Yasinta, Papua telah mengalami banyak luka sosial dan konflik berkepanjangan.
Ia berharap tidak ada lagi pihak yang memanfaatkan identitas masyarakat Papua untuk kepentingan tertentu tanpa pemahaman dan persetujuan yang jelas.
Pernyataannya ini menyentuh banyak pihak dan menuai simpati dari warganet.
Banyak pengguna media sosial menyampaikan dukungan moral atas keberaniannya memberikan klarifikasi secara terbuka.
Kasus ini turut membuka diskusi yang lebih luas mengenai etika produksi dokumenter, khususnya ketika melibatkan tokoh adat atau komunitas lokal.
Film dokumenter idealnya hadir untuk menyuarakan realitas secara objektif dan menghormati subjek yang terlibat.
Transparansi dalam proses produksi menjadi prinsip mendasar.
Mulai dari penjelasan tujuan, izin penggunaan rekaman, hingga hak narasumber untuk memahami konteks akhir tayangan merupakan bagian dari etika profesional.
Jika benar seperti yang disampaikan Yasinta, maka publik menilai perlu ada penjelasan terbuka dari pihak yang memproduksi film tersebut.
Klarifikasi diperlukan agar tidak muncul spekulasi liar yang semakin memperkeruh suasana.
Video klarifikasi Yasinta dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial.
Tagar terkait pengakuannya pun ramai diperbincangkan.
Banyak warganet menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk keberanian dalam meluruskan narasi yang dianggap merugikan.
Sebagian publik mendesak pihak pembuat film untuk memberikan penjelasan resmi.
Ada pula yang meminta evaluasi terhadap tata cara pelibatan tokoh adat dalam proyek dokumentasi sosial.
Di sisi lain, sejumlah pihak mengingatkan agar masyarakat menunggu klarifikasi dari semua pihak terkait sebelum menarik kesimpulan.
Hingga kini, perhatian publik masih tertuju pada kemungkinan adanya respons resmi dari pihak yang memproduksi film “Pesta Babi”.
Klarifikasi dari pembuat film dinilai penting untuk memberikan gambaran utuh mengenai proses produksi dan menjawab tudingan yang dilontarkan Yasinta.
Sementara itu, pengakuan Yasinta telah menjadi pengingat penting tentang perlunya perlindungan terhadap narasumber, terutama tokoh adat yang membawa nama komunitasnya.
Kasus ini juga menegaskan bahwa keterbukaan, persetujuan, dan penghormatan terhadap martabat narasumber bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi dalam setiap karya dokumenter yang bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi digital, publik diharapkan tetap kritis dalam menyikapi setiap narasi yang beredar dan menunggu fakta yang terverifikasi secara utuh.














Leave a Reply