TOPIK VIRAL – Indonesia mulai memasuki babak baru dalam pengembangan transportasi udara. Prototipe kendaraan udara listrik yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal atau electric vertical takeoff and landing (eVTOL) buatan dalam negeri resmi diperkenalkan kepada publik.
Pesawat bernama Vela Alpha tersebut dikembangkan oleh PT Vela Prima Nusantara atau Vela Aero. Prototipe fisik skala penuh kendaraan udara ini diluncurkan dalam ajang Heli Expo Asia (HEXIA) 2026 di Cengkareng Heliport, Jakarta.
Kehadiran Vela Alpha menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan konsep Advanced Air Mobility (AAM) di Indonesia. Teknologi ini dikembangkan untuk menghadirkan moda transportasi udara generasi baru yang dapat digunakan untuk mobilitas perkotaan maupun perjalanan jarak lebih jauh.
Vela Alpha dirancang dengan kapasitas hingga tujuh orang, terdiri dari satu pilot dan enam penumpang.
Pesawat tersebut disiapkan dalam dua pilihan teknologi. Varian pertama merupakan eVTOL dengan sumber tenaga listrik penuh yang ditujukan untuk kebutuhan Urban Air Mobility (UAM).
Versi listrik tersebut dirancang memiliki jangkauan hingga sekitar 150 kilometer. Dengan karakteristik lepas landas dan mendarat secara vertikal, kendaraan ini berpotensi digunakan untuk mobilitas antarkawasan perkotaan tanpa membutuhkan landasan pacu konvensional seperti pesawat pada umumnya.
Sementara itu, Vela Aero juga menyiapkan varian hybrid yang disebut hVTOL. Versi ini memiliki jangkauan lebih jauh, yakni hingga 500 kilometer.
Varian hybrid tersebut menggunakan turbogenerator dan dirancang agar dapat menggunakan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pengembangan ini membuat Vela Alpha tidak hanya diarahkan untuk perjalanan dalam kota, tetapi juga untuk penerbangan dengan jarak yang lebih panjang.
Dari sisi performa, pesawat tersebut ditargetkan mampu mencapai kecepatan jelajah hingga 250 kilometer per jam.
Peluncuran prototipe skala penuh Vela Alpha dinilai menjadi tonggak penting bagi pengembangan industri kedirgantaraan Indonesia.
Vela Aero menyatakan pengembangan pesawat tersebut tidak hanya berfokus pada pembuatan kendaraan udara. Perusahaan juga ingin membangun ekosistem Advanced Air Mobility yang mencakup teknologi, manufaktur, serta pengembangan industri pendukung.
Kehadiran prototipe fisik di Cengkareng Heliport juga disebut sebagai bukti kemampuan rekayasa dan manufaktur domestik dalam mengembangkan teknologi penerbangan generasi baru.
Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, proyek ini berpotensi menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain awal industri AAM di kawasan Asia Tenggara.
Meski prototipe fisik skala penuh telah diperkenalkan, Vela Alpha masih harus melewati berbagai tahapan pengembangan dan pengujian sebelum dapat digunakan secara komersial.
Vela Aero menargetkan uji terbang perdana pada kuartal IV 2026. Pengujian tersebut direncanakan berlangsung di hadapan regulator, mitra, calon investor, serta publik.
Tahapan tersebut akan menjadi bagian penting untuk membuktikan kemampuan terbang sekaligus mengevaluasi berbagai aspek teknis dan keselamatan pesawat.
Setelah melalui rangkaian pengujian dan proses sertifikasi yang diperlukan, Vela Alpha ditargetkan memasuki tahap Entry Into Service (EIS) pada awal 2029.
Artinya, jika seluruh proses berjalan sesuai jadwal, masyarakat Indonesia berpotensi melihat penggunaan kendaraan udara jenis ini secara lebih nyata dalam beberapa tahun mendatang.
Istilah “taksi terbang” memang menjadi salah satu gambaran paling menarik dari teknologi eVTOL. Namun, konsep yang dikembangkan Vela Alpha sebenarnya memiliki cakupan lebih luas.
Teknologi AAM dapat diarahkan untuk berbagai kebutuhan mobilitas, mulai dari transportasi perkotaan, perjalanan antarkawasan, hingga layanan penerbangan dengan karakteristik khusus.
Dengan kemampuan lepas landas secara vertikal, kendaraan seperti Vela Alpha juga menawarkan konsep mobilitas yang berbeda dari pesawat konvensional.
Meski demikian, perjalanan menuju pengoperasian komersial masih panjang. Selain kesiapan teknologi, faktor regulasi, sertifikasi, infrastruktur, keselamatan, dan kesiapan ekosistem menjadi bagian penting yang harus dipenuhi.
Peluncuran Vela Alpha setidaknya menunjukkan bahwa pengembangan kendaraan udara generasi baru bukan lagi sekadar konsep di Indonesia. Dengan target uji terbang pada akhir 2026 dan Entry Into Service pada awal 2029, proyek ini kini memasuki tahap yang lebih konkret menuju era mobilitas udara generasi berikutnya.













Leave a Reply