TOPIK NEWS – Kebahagiaan Timbul (49), warga Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), setelah putranya diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) justru dibayangi kecemasan.
Timbul yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak di kawasan Malioboro khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya setelah mengetahui status kesejahteraan keluarganya berubah dari desil 1 menjadi desil 9.
Perubahan tersebut disebut terjadi tanpa pemberitahuan kepada keluarga. Kondisi itu kemudian berdampak pada akses terhadap sejumlah bantuan, termasuk bantuan yang berkaitan dengan kebutuhan pendidikan.
Putra Timbul, Lutfi Arya Wijaya (18), berhasil diterima di jurusan mesin UNY. Pencapaian tersebut seharusnya menjadi kabar membahagiakan bagi keluarga.
Namun, Lutfi justru diliputi kekhawatiran mengenai biaya kuliah.
Kondisi ekonomi keluarganya membuat Lutfi takut pendidikan tinggi yang berhasil diraihnya akan menjadi beban tambahan bagi sang ayah. Ia bahkan disebut nyaris menangis ketika memikirkan kemampuan keluarganya untuk membiayai kuliah.
Bagi Timbul, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menghentikan pendidikan anaknya.
Ia tetap bertekad mengupayakan agar Lutfi dapat melanjutkan kuliah. Timbul berharap anaknya memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan tidak harus menjalani pekerjaan yang sama seperti dirinya.
Kecemasan Timbul semakin besar setelah mengetahui keluarganya kini tercatat dalam desil 9, sementara sebelumnya berada di desil 1.
Perubahan tersebut dipertanyakan karena Timbul merasa kondisi kehidupan keluarganya tidak menunjukkan peningkatan kesejahteraan secara drastis.
Ia mengaku masih mengandalkan penghasilan dari menarik becak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Timbul, kondisi rumah dan kepemilikan kendaraan yang menjadi bagian dari penilaian kesejahteraan perlu dilihat secara utuh. Rumah yang ditempatinya memang telah memiliki dinding dan sebagian lantai keramik, tetapi rumah tersebut masih tercatat atas nama tujuh keluarga.
Begitu pula dengan sepeda motor yang dimilikinya. Timbul menilai kepemilikan kendaraan tidak otomatis menunjukkan bahwa keluarganya berada dalam kondisi ekonomi yang berkecukupan.
Di tengah persoalan tersebut, Timbul memilih tetap berusaha agar putranya bisa menempuh pendidikan tinggi.
Baginya, kuliah merupakan kesempatan bagi Lutfi untuk memperluas pilihan hidup. Ia tidak ingin anaknya hanya memiliki satu pilihan pekerjaan karena keterbatasan kondisi ekonomi keluarga.














Leave a Reply